Menentukan saham undervalued menjadi salah satu strategi populer bagi investor yang ingin mendapatkan potensi keuntungan jangka panjang dengan risiko yang lebih terukur. Saham undervalued adalah saham yang secara harga dinilai lebih rendah dibandingkan nilai intrinsiknya. Pendekatan analisis fundamental sederhana dapat membantu investor pemula maupun menengah untuk menilai apakah suatu saham layak dibeli tanpa harus menggunakan metode yang terlalu rumit atau spekulatif.
Memahami Konsep Saham Undervalued Secara Dasar
Langkah awal dalam menentukan saham undervalued adalah memahami perbedaan antara harga pasar dan nilai intrinsik. Harga pasar mencerminkan persepsi investor saat ini, sedangkan nilai intrinsik menggambarkan nilai wajar perusahaan berdasarkan kinerja dan kondisi keuangannya. Saham dikatakan undervalued ketika harga pasar berada di bawah nilai intrinsik yang seharusnya. Pemahaman ini penting agar investor tidak hanya terpaku pada pergerakan harga jangka pendek yang sering dipengaruhi emosi pasar.
Menggunakan Rasio Price to Earnings Secara Bijak
Rasio Price to Earnings atau PER merupakan indikator sederhana yang sering digunakan untuk menilai valuasi saham. PER yang rendah dibandingkan rata-rata industri dapat menjadi sinyal bahwa saham tersebut undervalued. Namun PER tidak boleh dilihat secara terpisah. Investor perlu memastikan bahwa laba perusahaan stabil atau memiliki potensi pertumbuhan. PER rendah yang disebabkan penurunan kinerja justru bisa menjadi tanda risiko, bukan peluang.
Menganalisis Price to Book Value Untuk Menilai Nilai Aset
Rasio Price to Book Value atau PBV membantu investor membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan. PBV di bawah satu sering dianggap menarik karena harga saham lebih rendah dibandingkan nilai aset bersihnya. Pendekatan ini cocok untuk perusahaan yang memiliki aset nyata kuat seperti perbankan atau manufaktur. Meski demikian, kualitas aset dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari aset tersebut tetap harus diperhatikan.
Memeriksa Kinerja Keuangan dan Stabilitas Laba
Analisis fundamental sederhana tidak lengkap tanpa melihat laporan keuangan. Investor sebaiknya memperhatikan tren pendapatan dan laba bersih dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan yang konsisten mencetak laba menunjukkan model bisnis yang lebih stabil. Selain itu, rasio utang terhadap ekuitas juga perlu diperhatikan untuk memastikan perusahaan tidak memiliki beban utang berlebihan yang dapat mengganggu kinerja jangka panjang.
Memperhatikan Arus Kas dan Kemampuan Bertahan
Arus kas sering kali diabaikan oleh investor pemula, padahal memiliki peran penting. Perusahaan yang sehat biasanya memiliki arus kas operasional positif secara konsisten. Arus kas yang kuat menunjukkan kemampuan perusahaan menjalankan operasional tanpa bergantung penuh pada pendanaan eksternal. Hal ini menjadi indikator penting dalam menilai apakah saham undervalued benar-benar aman untuk dikoleksi.
Menggabungkan Analisis Dengan Margin of Safety
Pendekatan aman dan terukur dalam menentukan saham undervalued adalah dengan menerapkan margin of safety. Artinya, investor membeli saham dengan selisih harga yang cukup jauh di bawah nilai wajarnya. Strategi ini memberikan ruang aman jika terjadi kesalahan perhitungan atau perubahan kondisi pasar. Margin of safety membantu investor tetap rasional dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Menjaga Disiplin dan Konsistensi Investasi
Menemukan saham undervalued bukan berarti keuntungan akan datang secara instan. Dibutuhkan kesabaran dan disiplin untuk menunggu pasar menyadari nilai sebenarnya dari saham tersebut. Investor yang konsisten menggunakan analisis fundamental sederhana cenderung memiliki keputusan yang lebih rasional dan terhindar dari keputusan emosional. Dengan pendekatan ini, investasi saham dapat menjadi lebih aman, terukur, dan berorientasi jangka panjang.












